Sabtu, 07 Februari 2009

Sendiri

Suatu hari di bulan Desember 2008, seorang siswa SMPN 49 Jakarta yang tidak mau disebutkan namanya berjalan dengan lesu menanjak tanjakan sepulang sekolah.

Ia berjalan bercucur keringat, membawa beban di tas coklatnya yang kira-kira beratnya kurang lebih 5 kg. Terik matahari awal Desember membuatnya harus mampir ke tukang es buah untuk berteduh sejenak sekaligus membasahi kerongkongannya dengan es buah yang segar.

Setelah puas dengan es buahnya, ia melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang jaraknya kira-kira kurang lebih satu kilometer dari sekolahnya. Perjalanan yang dilaluinya lumayan terbilang berat, harus menyebrangi jembatan, sungai, turunan, gang-gang sempit yang penuh anak alay, dll. Dan akhirnya, bocah berseragam batik itu sampai di depan rumahnya dengan selamat walau tubuhnya dipenuhi peluh akibat panasnya sengatan matahari bulan desember.

Anak itu sempat menyeringai puas dan bangga karena sampai rumah. Kemudian tas coklatnya dibukanya dan diambilnya kunci rumahnya. Hari itu kebetulan rumahnya kosong, padahal biasanya ketika ia pulang sekolah selalu ada yang membukakan pintu, yakni Mbak Inah. Namun kali ini Mbak Inah sedang pergi ke Wonosobo bersama keluarganya untuk menghadiri acara pernikahan kerabatnya. Sehingga bocah berlumur peluh itu kini hanya sendirian.

Kunci dimasukannya ke lubang kunci dan kemudian dibukanya pintu rumah tua yang katanya dibangun tahun 1962 itu. Hening. Hal itulah yang anak itu rasakan ketika memasuki rumah tua yang sudah ia tinggali sejak kelas 1 SD itu.

Pintu rumah yang tadi dibukanya sekarang ditutup dan dikunci lagi. Sepatu North Star yang dia pakai dilepaskannya dari tubuhnya, begitu juga dengan baju batik dan celana panjang birunya. Kini anak itu hanya menggunakan kaos dalam dan celana pendek.

Entah mengapa semenak masuk rumah itu tadi, bulu romannya terus berdiri dan turun. Aneh. Tapi bocah atheis ini tetap tidak menggubrisnya. Otaknya sudah terkotori dengan pikiran komunisme dan atheisme, sehingga keberadaan makhluk halus dan keberadaan Tuhan pun masih ia sangsikan.

Dengan langkah lumayan gagah, ia masuki kamarnya dan dinyalakannya AC yang sudah bertengger di pojok kamarnya kira-kira 5 tahun lamanya. AC dinyalakan. Angin sejuknya berhembus ke arah seonggok tubuh bocah yang tengkurap di kasurnya. Beberapa lama, bocah itu meringis, tadi kepanasan sekarang kedinginan. Lantas berpikirlah ia untuk nonton televisi saja.

Televisi pun ia nyalakan. Remote ia genggam dan jarinya sibuk memijit tombol remote. Matanya memiliah-milah tontonan apakah yang bagus dilihat. Sejenak dilihatnya RCTI, acaranya tentang berita kasus-kasus kriminal. Dilihatnya sebentar acara itu, ternyata sedang memberitakan tentang foto syur siswi SMP di Palembang yang menyebar di kalangan siswa/i di Palembang.

Terpana sebentar ia melihat tayangan itu. Otaknya sedikit membayangkan bagaimana pose siswi itu, maklumlah, bocah ini memang sedikit porno. Di kepalanya kira-kira 1/3-nya dikuasai pornografi.
Setelah beritanya berganti menjadi berita preman sodomi anak kecil, ia tak tertarik. Digantinya lagi channel TV-nya. Metro TV menjadi pilihannya. Acaranya tentang kehidupan bunglon padang pasir

Disaksikannya acara itu sembari rebahan di sofa empuk yang biasa digunakan untuk tidur-tiduran sembari nonton TV. Tak terasa karena ia kelelahan, ia tertidur. Remote ia taruh di meja sebelah sofa. Bocah itu terus tertidur hingga tak terasa langit sudah menggelap, matahari kembali ke peraduan, dan suara adzan menggema dimana-mana.

Terbangunlah ia. Sejenak ia masih bengong. Ia rasakan ada sesuatu yang janggal. Namun apakah itu? Otaknya terus digunakan untuk menemukan kejanggalan itu. Akhirnya otaknya berhasil menemukan kejanggalan itu setelah kurang lebih 3 menit. Dan ketika kejanggalan itu ditemukan, bulu kuduknya sedikit merinding.

Mengapa merinding? Karena kejanggalannya adalah TV yang ia nyalakan siang tadi kini sudah mati, kemudian lampu yang tadi redup sekarang menyala. Segera ia cek pintu depan dan jendela-jendela. Kesimpulan yang ia dapatkan adalah tidak ada seorangpun yang masuk ke rumah saat ia tidur untuk mematikan teve dan menyalakan lampu.

Merinding. Sekitar pukul 6.20 bulu roman anak itu merinding, diiringi kesunyian senja, dan gema adzan yang bersahut-sahutan dan angin sore yang membelah daun-daun di kebun belakang rumah itu. Dengan otak religiusnya, ia menduga hal itu dilakukan oleh sesuatu yang kata orang-orang namanya jin atau bahasa lainnya makhluk halus. Namun ketika ia berpikir dengan otak atheisnya, ia tak menemukan jawaban siapakah yang melakukan hal itu. Karena atheis tidak meyakini makhluk halus bahkan Tuhan sekalipun. Dan anak itu terus berpikir siapa yang mematikan teve dan menyalakan lampu dalam kesunyian rumah tua itu dan dalam keremangan cahaya senja.

0 komentar: